Berita

Program CSR: Pendampingan dari Mahasiswa untuk Anak Putus Sekolah

  • Diposting oleh : Chindra Tjahyadi
  • Selasa, 05 September 2017 - 16:26:23 WIB
  • Kategori: Kegiatan
  • Dibaca: 58 kali

Pada tanggal 4 September 2017 kemarin, Dinas Sosial Pemerintah Kota Surabaya menyelenggarakan Campus Social Responsibility (CSR) di Perpustakaan Lt.5 Universitas Surabaya. CSR adalah program pendampingan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menangani anak putus sekolah, untuk mengubah kehidupan anak-anak yang tidak punya harapan. Acara ini mengunsung tema “Better Future for The Next Generation” dan juga turut mengundang pembicara yaitu Prof. Dr. Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN Indonesia dan Mantan CEO Jawa Pos dan Dr. Bonnie Soeherman, S.E., M.Ak sebagai dosen FBE Ubaya dengan moderator dari lulusan Universitas Surabaya yaitu Samuel Dimas, S.Psi.

Pertama, acara dibuka dengan sambutan dari Ketua LPPM, Pak Dr. Drs. Anton Tjahjoanggoro, M.Si yang menyampaikan bahwa kita memiliki sumber daya manusia yang sungguh kaya tetapi belum optimal. Beliau berharap dengan adanya CSR ini sumber daya manusia terus bertambah dengan dibawah program Ibu Risma ini. Acara selanjutnya yaitu ada 3 orang mahasiswa yang pernah terjun langsung ke pogram CSR berbagi pengalaman tentang bagaimana proses pendampingan, pengenalan dan pendekatan terhadap anak yang putus sekolah.

Muhammad Ainurrochim dari mahasiswa Universitas Sunan Ampel Surabaya berbagi cerita tentang anak didiknya yang putus sekolah di SMP semenjak dia menjadi yatim piatu. “Pertama, saya bernegosiasi dengan Guru BK untuk meminta anak ini bisa sekolah lagi karena selama 3 minggu tidak pernah sekolah semenjak orang tuanya meninggal ditambah teman-temannya yang kurang baik. Saya juga mengantar jemput anak ini setiap hari untuk pergi ke sekolah dan pada akhirnya dia mandiri untuk berangkat sekolah lagi”, tutur Ainur. Ainur dan mahasiswa lainnya merasa bersyukur untuk bisa membantu langsung kepada anak-anak yang sangat membutuhkan itu serta kita juga bisa belajar cara menahan emosi, melatih kesabaran karena yang dipikirkan sekarang bukan hanya diri kita sendiri lagi melainkan orang lain.

Selanjutnya, Pak Bonnie memberikan materi tentang tujuan hidup bukan sekedar memenuhi perut ataupun travelling, tetapi menjadi orang yang berguna untuk orang lain dan kita bisa mendapatkan kebahagiaan. Kemudian dilanjutkan oleh Pak Dahlan Iskan yang membahas tentang potensial konflik. Beliau berkata aktivitis mahasiswa akan menang merebut masa depan karena sudah terbiasa menghadapin berbagai macam konflik, memahami serta menyelesaikan masalah sebab hal ini tidak akan pernah dialami sama orang yang kutu buku, jadi latihan yang terbaik adalah sejak menjadi aktivis mahasiswa. Pada akhir sesi, para mahasiswa yang hadir terlihat sangat antusias dalam memberikan pertanyaan namun dikarenakan waktu yang kurang maka hanya diberikan kesempatan kepada 6 mahasiswa untuk bertanya.